Setiap tanggal 1 Mei, seluruh penjuru dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau yang dikenal dengan May Day. Hari ini lahir dari perjuangan panjang para pekerja yang menuntut hak-hak mereka—hak atas waktu kerja yang adil, hak atas upah yang layak, dan hak untuk diperlakukan dengan manusiawi.
Namun, tahukah kita bahwa jauh sebelum dunia mengenal May Day, Islam telah lebih dulu memuliakan para pekerja? Islam adalah agama yang tidak pernah memandang rendah seorang pun yang bekerja dengan tangannya sendiri. Islam menjunjung tinggi nilai kerja keras, kejujuran, dan profesionalisme.
Islam Memuliakan Orang yang Bekerja
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Artinya: "Dan katakanlah, Bekerjalah kamu! Maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin..."
Perintah ini menegaskan bahwa kita tidak hanya dituntut untuk beribadah di dalam masjid, tetapi juga bergerak, bekerja, dan berjuang di muka bumi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahkan menegaskan bahwa makanan paling halal dan berkah adalah yang dihasilkan dari keringat sendiri, bukan dari meminta-minta.
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلٍ يَدِهِ
Artinya: "Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada memakan hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari)
Nabi pun Seorang Pekerja Keras
Para nabi tidak hidup dengan berdiam diri menunggu rezeki dari langit. Nabi Dawud As. adalah seorang pandai besi. Nabi Musa As. bekerja sebagai penggembala selama bertahun-tahun. Begitu pula Rasulullah Muhammad SAW yang pernah menggembala kambing dan menjadi pedagang yang jujur (Al-Amin). Bekerja bukanlah sesuatu yang merendahkan, melainkan sunnah para nabi.
Hak Pekerja dalam Islam
Islam sangat serius dalam melindungi hak-hak kaum pekerja. Rasulullah bersabda:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقَهُ
Artinya: "Berikanlah kepada pekerja upahnya sebelum kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah)
Ini adalah perintah tegas agar setiap pekerja mendapatkan haknya tepat waktu tanpa penundaan. Bahkan, Allah mengancam akan menjadi musuh di hari kiamat bagi siapa saja yang mempekerjakan seseorang namun tidak memberikan upahnya.
Pesan untuk Para Pekerja
Bagi siapa saja yang hari ini sedang berjuang mencari nafkah—para petani, nelayan, buruh, pedagang, hingga guru—ingatlah bahwa Allah tidak melihat tinggi rendahnya jabatan, melainkan keikhlasan dan kesungguhan kita.
Jadikanlah setiap pekerjaan sebagai ibadah. Niatkan setiap tetes keringat sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan kasih sayang kepada keluarga. Mari kita jadikan momentum Hari Buruh Internasional ini sebagai pengingat bahwa kerja keras adalah sunnah para nabi, dan rezeki yang halal adalah rezeki yang paling berkah.
Artikel ini merupakan saduran dari materi Mauidhoh Hasanah yang disampaikan pada kegiatan rutin Khitobiyah Santri Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim Semarang. Acara tersebut dilaksanakan pada Kamis, malam Jumat, 30 April 2026, bertempat di Masjid Nurul Ulum UNWAHAS.
Kelas: Awwal Putra
Tautan: Dokumentasi Khitobiyah
0 Comments